teruntuk kau yang sedang termenung di sudut sepi yang dingin
dengan angin semilir tatkala jendela itu kau buka
dengan angin semilir tatkala jendela itu kau buka
bukan kah rencana tuhan itu lucu?
ia lenyapkan aku bagai bintang dalam lubang hitam
ia lenyapkan aku bagai bintang dalam lubang hitam
kemudian pertemukan kita kembali dalam harmoni yang amat pilu
kau bercerita betapa kejam semesta
tetapi aku lebih tau
ada yang lebih kejam dari semestamu
kau bersedu sedan pada takdir
apakah tuhan sedang bercanda?
bagaimana bisa ia permainkan rinduku
dan menguji keteguhan hatiku
dan menguji keteguhan hatiku
sungguh hanya ia yang tau
betapa kau yang sangat kutunggu pulang
betapa kau yang sangat kutunggu pulang
sungguh hanya ia yang tau
bahwa kaulah yang selalu jadi semestaku
bahwa kaulah yang selalu jadi semestaku
yang menghilang bersama bintang di utara
menjadikan ku satelit tak bertuan
menjadikan ku satelit tak bertuan
sungguh hanya kau yang mampu
porak porandakan alam rayaku yang terpola
sungguh inginku hanya satu
menjadikanmu pemandu untuk setiap titik nasib yang bergulir
menjadikanmu pemandu untuk setiap titik nasib yang bergulir


